Strategi Pembelajaran Keterampilan Berbicara di SD (Materi 6)
“STRATEGI PEMBELAJARAN KETERAMPILAN
BERBICARA DI SD”
A.
Pengertian
Strategi Pembelajaran Berbicara
J.R.
David mendefinisikan strategi sebagai “a plan, method, or series of activities designed to achieves a
particular educational goal” (dalam Isjoni, 2007:2). Kemp berpendapat bahwa
strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus
dilaksanakan oleh guru dan siswa agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan
efisien. Sejalan dengan dua pendapat tersebut, Dick dan Carey (dalam Sanjaya,
2009:126) mendefinisikan strategi pembelajaran sebagai suatu set materi dan
prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan
hasil belajar pada siswa.
Dapat
disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah rencana kegiatan pembelajaran
yang memuat penggunaan metode dan teknik pembelajaran dengan memanfaatkan
berbagai sumber daya atau kekuatan yang tersedia termasuk menggunakan media
pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan
efisien.
1.
Strategi Pembelajaran KSUPP (P)
KSUPP(P)
merupakan suatu sarana keterampilan lisan yang berpusat pada siswa dengan suatu
komponen menulis yang bersifat fakultatif (Tarigan, 1990:152). KSUPP(P) adalah
singkatan dari Kisahkan, Siapkan, Ulangi, Pakai, Pamerkan, dan Pekerjaan
rumah yang ditaruh dalam kurung karena bersifat fakultatif, bersifat
pilihan. Berikut adalah fase-fase kegiatan pembelajaran dengan strategi
heuristik KSUPP(P) yang dapat dilakukan oleh guru dalam pembelajaran
menceritakan pengalaman paling mengesankan.
Fase
Kisahkan. Guru memulai pembelajaran dengan suatu pembicaraan singkat.
Dalam pembicaraan tersebut guru mengaitkan dengan pengalaman pribadinya
sendiri. Guru menceritakan mengenai apa yang dilakukan, apa yang terjadi, dan bagaimana
perasaan yang dialami.
Fase
Siapkan. Dalam fase ini, guru menugaskan siswa untuk bertanya jawab
dengan teman sebangkunya mengenai kegiatan atau pengalaman yang paling
mengesankan, umpamanya pengalaman sewaktu liburan.
Fase
Ulangi. Pada fase ini guru dapat menugaskan siswa untuk membentuk
kelompok yang beranggotakan tiga sampai lima orang dengan komposisi anggota
kelompok baru. Dalam kelompok baru tersebut, siswa ditugaskan mengulangi kegiatan
tanya jawab yang dilakukan.
Fase
Pakai. Fase ini merupakan suatu kegiatan campuran. Para siswa ditugaskan
berdiri dan membentuk kelompok-kelompok baru yang beranggotakan enam orang atau
lebih (disesuaikan dengan pengaturan waktu dan jumlah siswa).
Fase
Pamerkan. Pada fase kelima ini, siswa kembali ke tempat duduk mereka
masing-masing. Fase ini merupakan kegiatan konfirmasi atas apa yang telah
dipelajari siswa.
Fase
Pekerjaan rumah. Fase ini merupakan fase yang bersifat pilihan. Dalam
situasi-situasi yang menuntut pekerjaan rumah sebagai suatu program yang
diperlukan, maka suatu komposisi rancangbangun dapat dilakukan sebagai hasil
akhir pembelajaran.
2.
Strategi Pembelajaran Kuantum
Stretegi
pembelajaran kuantum diterapkan melalui metode diskusi dan tanya jawab dengan
teknik koreksi sesama teman. Metode, teknik, media dan penilaian tersebut
terangkai dalam unsurunsur kerangka perancangan pengajaran quantum teaching yang
digagas oleh DePorter dan koleganya. Unsur-unsur kerangka tersebut adalah Tumbuhkan,
Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan yang diakronimkan
menjadi TANDUR. DePorter dkk. (2009:88) memberikan jaminan bahwa kerangka ini
mampu menjadikan siswa tertarik dan berminat terhadap pembelajaran (apapun mata
pelajaran dan tingkat kelasnya).
Unsur
pertama dalam kerangka TANDUR ini adalah tumbuhkan. Dalam tahap
ini, langkah awal yang dapat dilakukan oleh guru adalah bertanya jawab mengenai
pengalaman siswa dalam menyampaikan pengumuman.
Unsur
kedua adalah alami. Pada saat ini guru dapat melakukannya dengan
menugaskan siswa membentuk kelompok yang beranggotakan empat sampai enam orang.
Unsur
ketiga adalah namai. Kegiatan menamai ini perlu dilakukan dalam
pembelajaran karena penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan
identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan.
Unsur
keempat adalah demonstrasikan. Langkah yang dapat dilakukan oleh
guru pada tahap ini adalah menugaskan siswa menyusun sebuah topik pengumuman
dengan menggunakan kalimat-kalimat yang
lugas dan sederhana.
Unsur
kelima adalah ulangi. Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan
menimbulkan rasa “Aku tahu bahwa aku tahu ini!” (DePorter, 2009:92).
Pengulangan ini baiknya dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya agar siswa
memiliki kesiapan yang lebih baik.
Unsur
keenam dari TANDUR adalah rayakan. Tahap ini beranjak dari
pemikiran bahwa sesuatu yang layak dipelajari, layak pula untuk dirayakan.
Perayaan dilakukan untuk menghargai usaha, ketekunan, dan kesuksesan dalam
belajar.
3. Strategi
Pembelajaran Kooperatif Berbantuan Objek Langsung
Prosedur pembelajaran kooperatif pada terdiri
atas empat tahap, yaitu (1) penjelasan materi; (2) belajar dalam kelompok; (3)
penilaian; dan (4) pengakuan tim (Sanjaya, 2009:248).
Keempat prosedur tersebut tampak dalam
langkah-langkah pembelajaran berikut. Langkah pertama yang dilakukan
oleh guru dalam pembelajaran adala menyampaikan tujuan pembelajaran dan manfaat
yang didapatkan oleh siswa setelah mempelajari materi tersebut. Langkah kedua
yang dilakukan adalah menugaskan siswa mengamati video mengenai seseorang
yang sedang menyampaikan ceritanya. Langkah ketiga adalah menugaskan
siswa untuk membentuk kelompok yang beranggotakan 4-6 orang dengan pembetukan
kelompok yang heterogen, baik dilihat dari segi jenis kelamin maupun dari segi
tingkat kemampuan. Langkah keempat adalah mendemonstrasikan hasil
belajar. Langkah ini merupakan pelaksanaan prosedur ketiga strategi
pembelajaran kooperatif, yaitu penilaian. Langkah kelima adalah
memberikan pengakuan terhadap tim yang dianggap paling menonjol atau paling
berprestasi. Langkah ini merupakan pelaksanaan prosedur keempat dalam strategi
pembelajaran kooperatif, yaitu pengakuan tim.
Sanjaya (2009:250) mengatakan bahwa
strategi pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan
untuk berpikir.
4.
Strategi Pembelajaran Heuristik
Salah satu strategi yang dapat dipilih oleh
guru adalah strategi pembelajaran heuristik. Misalnya dalam pembelajaran bercerita,
strategi ini diterapkan melalui metode penugasan, diskusi, tanya jawab, dan demonstrasi
dengan teknik storytelling berbantu media personal photograph (foto
pribadi).
Langkah-langkah pembelajaran yang
dilakukan oleh guru dan siswa dalam pelaksanaan strategi ini adalah sebagai
berikut. Langkah pertama adalah menunjukkan manfaat pembelajaran
bercerita dengan alat peraga bagi siswa.
Setelah perhatian siswa dapat dipusatkan dan motivasi dalam diri siswa
muncul, langkah kedua yang dilakukan adalah menunjukkan sebuah atau
beberapa buah foto kepada siswa. Langkah ketiga adalah dengan menugaskan
siswa mencermati naskah cerita yang telah mereka buat di rumah berdasarkan foto
pribadinya. Langkah keempat yang dilakukan adalah menugaskan siswa
membentuk kelompok yang beranggotakan 4-6 orang. Langkah terakhir adalah dengan
menugaskan siswa tampil di depan kelas untuk bercerita.
Stretegi pembelajaran heuristik juga
dapat dikombinasikan dengan teknik REIS (read, explain, imitation style)
seperti dalam pembelajaran menceritakan tokoh idola. Teknik REIS ini melibatkan
keterampilan membaca, berbicara, dan bermain peran. Keterampilan membaca (read)
yang digunakan dalam menceritakan tokoh idola adalah membaca bahan cerita.
Bahan cerita yang digunakan adalah sebuah media berupa biografi singkat tokoh.
Strategi pembelajaran heuristik REIS
dapat dilakukan dengan sejumlah langkah yang disusun sedemikian rupa agar
tujuan pembelajaran dapat tercapai dan menjadikan pembelajaran menceritakan
tokoh idola menjadi pembelajaran yang menggairahkan bagi siswa. Langkah awal
yang dilakukan sebelum pembelajaran di kelas terjadi adalah dengan menugaskan
siswa secara mandiri untuk menentukan tokoh idolanya dan mencari biografi
singkat menenai tokoh yang diidolakannya tersebut.
Langkah pertama adalah dengan
menghubungkan pembelajaran dengan pembelajaran sebelumnya dan menunjukkan
manfaat yang diperoleh siswa dalam pembelajaran menceritakan tokoh idola. Langkah
kedua adalah denga menerapkan metode demonstrasi. Guru menunjukkan buku
biografi tokoh idolanya dan menunjukkan beberapa gambar yang ada untuk menarik
perhatian siswa. Langkah ketiga adalah menugaskan siswa membaca (read)
biografi tokoh idolanya dan bertanya jawab dengan teman sebangku mengenai tokoh
idola mereka. Langkah keempat adalah dengan menugaskan siswa membentuk
kelompok yang beranggotakan 4-6 orang. Langkah kelima adalah memanggil
siswa secara acak untuk tampil di depan kelas menjelaskan (explain) dan
menirukan gaya (imitation style) tokoh idolanya.
Kerangka perancangan quantum teaching, yaitu rayakan dapat juga dilakukan
guru untuk menghargai dan memberikan motivasi terhadap apa yang telah dilakukan
oleh peserta didik.
5.
Strategi
Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah memiliki
karakteristik sebagai berikut: (1) pembelajaran berfokus pada masalah; (2)
siswa memiliki peran dan tanggung jawab memecahkan masalah; (3) guru berperan
sebagai fasilitator yang mendukung saat siswa memcahkan masalah Eggen dan
Kauchak (2012:307). Bertolak dari tiga karakteristik utama pembelajaran
tersebut, maka strategi yang digunakan guru bertumpu pada: (1) penentuan tema
yang diangkat menjadi topik masalah yang akan dipecahkan; (2) proses interaksi
yang didesain dalam memecahkan masalah; (3) kemampuan guru mengawal interaksi
belajar.
Pembelajaran berbicara berbasis masalah
memerlukan satu masalah untuk dipecahkan oleh peserta didik, baik secara
individu maupun kelompok. Eggen dan Kauchak (2012:309) menyatakan bahwa siswa
yang terlibat dalam pembelajaran berbasis masalah memerlukan satu masalah untuk
dipecahkan. Dengan siswa yang tidak berpengalaman, masalah-masalah akan paling
efektif jika masalah itu jernih, konkrit, dan dekat dengan keseharian (personalized).
Masalah yang sederhana ini akan merangsang peserta didik bereaksi terhadap
masalah yang dihadapi. Pembelajaran berbicara berbasis masalah dapat
berlangsung dengan baik jika tema yang diangkat mampu mendorong siswa untuk
ikut berpartisipasi. Partisipasi siswa dapat timbul karena rasa keingintahuan.
Hasil mengkonstruksi akan diwujudkan dalam bentuk tuturan. Siswa memberi respon
inilah yang membentuk proses kognisi siswa yang pada akhirnya men-dorong
keberanian untuk berbicara.
Aktivitas berbicara peser-ta didik itu
ditunjukkan pada setiap tahap-tahap proses pemecahan masalah, yaitu:
a. Tahap
menyampaikan ide atau gagasan (ideas).
Pada tahap ini peserta didik akan
berlatih dan menunjukkan kemampuan berbicara untuk menyampaikan idea tau
gagasan yang timbul akibat masalah yang dihadapi.
b. Tahap
penyajian fakta yang diketahui (known facts).
Pada tahap ini peserta didik dirangsang
dengan menunjukkan beberapa fakta sesuai dengan masalah yang diajukan.
Berdasarkan fakta-fakta yang dilihat, maka peserta didik akan menyampaikan
fakta-faklta tersebut dengan menggunakan bahasa lisan.
c. Tahap
mempelajari masalah (learning issues).
Pada tahap ini peserta didik
mendemontrasikan kegiatan berbicara ketika memecah-kan masalah. Aktivitas
peserta didik menanya, berdiskusi, mengkonfirmasi fakta.
d.
Tahap
menyusun rencana tindakan (action plan)
Tahap ini peserta didik
mengembangkan sebuah rencana (tindakan) atau solusi yang akan dilakukan dalam
mengatasi masalah. Aktivitas berbicara ditunjukkan ketika nyampaikan pendapat
dan memberikan saran-saran.
e.
Tahap
evaluasi (evaluation)
Tahap evaluasi ini menurut Hosnan
(2014:297) meliputi tiga hal: (1) bagaimana pe-serta didik mengevaluasi dan
menilai hasil akhir atau solusi yang diajukan dalam menyelesaikan masalah, (2)
bagaimana peserta didik menerapkan tahapan pembel-ajaran berbasis masalah, dan
(3) bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil memecahkan
masalah. Ketiga tahapan itu dilakukan peserta didik sebagai pertanggungjawaban
dan disampaikan secara formal. Pada tahap ini, peserta didik menunjukkan
aktivitas berbicara.
Tujuan
utama pembelajaran berbasis masalah bukanlah penyampaian sejumlah informasi
kepada peserta didik, namun menekankan pengembangan kemampuan berpi-kir kritis
dan kemampuan memecahkan masalah. Menentukan masalah dapat dilakukan dengan
bersandar pada pendapat Bruner (Hosnan, 2014:35) tentang pokok-pokok teori
belajar, yaitu:
1)
Individu
hanya belajar dan mengembangkan pikirannya apabila ia menggunakan pikirannya,
2) Dengan melakukan proses-proses
kognitif dalam proses penemuan, siswa akan memperoleh sensasi dan kepuasan
intelektual yang suatu penghargaan instrinsik,
3)
Satu-satunya
cara agar seseorang dapat mempelajari teknik-teknik dalam melakukan penemuan
adalah ia memiliki kesempatan untuk melakukan penemuan.
Selanjutnya
Arends (Abbas, 2000, dalam Hosnan 2014:296) mengemukakan kriteria-kriteria
dalam menyodorkan masalah yang akan dipecahkan oleh peserta didik, sebagai
berikut:
a.
Autentik, yaitu masalah berakar pada
kehidupan nyata siswa daripada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu
tertentu.
b.
Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan
jelas, artinya tidak menimbulkan ambiguitas yang membingungkan siswa.
c.
Mudah
dipahami,
artinya masalah yang disajikan disesuaikan dengan karakteristik kognisi peserta
didik dan pengetahuan awal yang dimilikinya.
d.
Luas
dan sesuai dengan tujuan pembelajaran,
artinya peserta didik dapat berkreasi melihat masalah dari berbagai sudut
pandang menurut keyakinannya.
e.
Terintegrasi
berbagai mata pelajaran,
artinya masalah dapat mengembangkan pembelajaran mata pelajaran lain.
f.
Bermanfaat, peserta didik memperoleh nilai
dari usaha memecahkan masalah, nilai kognisi dan sikap.
Mengacu
pendapat Arends dan keempat teori yang dikemukakan Bruner yang telah dipaparkan
di atas, maka masalah pembelajaran berbicara dapat diidentifikasi dengan cara
sebagai berikut:
a.
Materi
pembelajaran berbicara disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
b.
Materi
pembelajaran berbicara disesuaikan dengan kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang diinginkan. Kompetensi sikap tidak hanya mengendalkan materi
tentang sikap saja, namun memerlukan pengetahuan, dan diaplikasikan pada
keterampilan.
c.
Materi
pembelajaran berbicara harus mampu merangsang peserta didik berfikir kreatif
untuk menilai dan menanggapi fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan
logika sederhana atau penalaran tertentu, sehingga pepserta didik memiliki
keyakinan terhadap kemampuan kognisinya.
d.
Masalah
yang disajikan harus menumbuhkan motivasi instrinsik peserta didik untuk
terlibat langsung menaggapi, menilai, dan menganalisis fakta. Dengan demikian,
tahap identifikasi masalah, guru diharapkan memiliki inovasi yang tinggi dalam
memilih materi pembelajaran.
Berikut
ini adalah lima langkah yang dapat dilakukan sebagai strategi pembel-ajaran
berbicara berbasis masalah, yaitu:
a.
Tahap
menyampaikan ide atau gagasan (ideas).
Pada tahap ini peserta didik akan
berlatih dan menunjukkan kemampuan berbicara untuk menyampaikan idea tau
gagasan yang timbul akibat masalah yang dihadapi.
b.
Tahap
penyajian fakta yang diketahui (known facts).
Pada tahap ini peserta didik
dirangsang dengan menunjukkan beberapa fakta sesuai dengan masalah yang
diajukan. Berdasarkan fakta-fakta yang dilihat, maka peserta didik akan
menyampaikan fakta-faklta tersebut dengan menggunakan bahasa lisan.
c.
Tahap
mempelajari masalah (learning issues).
Pada tahap ini peserta didik akan
mendemontrasikan kegiatan berbicara ketika memecahkan masalah. Aktivitas
peserta didik adalah menanya, berdiskusi, mengkon-firmasi fakta.
d.
Tahap
menyusun rencana tindakan (action plan)
Tahap ini peserta didik
mengembangkan sebuah rencana (tindakan) atau solusi yang akan dilakukan dalam
mengatasi masalah. Aktivitas berbicara ditunjukkan ketika nyampaikan pendapat
dan memberikan saran-saran.
e.
Tahap
evaluasi (evaluation) proses pemecahan masalah
Pada tahap ini peserta didik
diberikan kesempatan untuk menilai, membandingkan, dan menyimpulkan hasil
memecahkan masalah sebagai pertanggungjawaban hasil belajar secara formal
melalui aktivitas berbicara, misalnya menyampaikan laporan, seminar, diskusi,
dan lain-lain.
Komentar
Posting Komentar