ARTIKEL GANGGUAN BERBAHASA "CADEL"

Siti Munawaroh
(A1D117039)

CADEL
1.      PENGANTAR
Bila kita mengamati perkembangan kemampuan berbahasa anak, kita akan terkesan dengan pemerolehan bahasa anak yang berjenjang dan teratur. Pada usia satu tahun anak mulai mengucapkan kata-kata pertamanya yang terdiri dari satu kata yang kadang-kadang tidak jelas tetapi sesungguhnya bermakna banyak.
Setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk menguasai bahasa. Proses dan sifat penguasaan bahasa setiap orang berlangsung dinamis dan melalui tahapan berjenjang. Terkait dengan itu, dikenal 2 istilah, yakni pemerolehan bahasa (language acquisition) dan pembelajaran bahasa (language learning). Kridalaksana (2001: 159) mendefinisikan pemerolehan bahasa (language acquisition) sebagai proses pemahaman dan penghasilan bahasa pada manusia melalui beberapa tahap, mulai dari meraban sampai kefasihan penuh; sedangkan pembelajaran bahasa (language learning) diartikan sebagai proses dikuasainya bahasa sendiri atau bahasa lain oleh seorang manusia.
Bahasa sebagai alat komunikasi akan terhambat apabila tidak didukung oleh artikulasi yang tepat. Seperti dalam pergaulan sehari-hari sering kali kita menjumpai seseorang yang mengalami kesulitan dalam menghasilkan bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar. Bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar yaitu bunyi bahasa yang menggunakan ujung lidah dan gusi. Ujung lidah berfungsi sebagai artikulator aktif yang menyebabkan proses mengetar dan gusi sebagai artikulator pasif
Cadel merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mengucapkan suatu huruf, sehingga akan mengucapkan suatu huruf menjadi huruf lainnya (yang paling umum adalah mengucapkan 'R' menjadi huruf 'L'). Pada umumnya cadel ini tidaklah dianggap suatu masalah serius karena tidak tergolong jenis penyakit atau gejala penyakit dan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit (Sidabutar, 1986).

2.      PEMBAHASAN
2.1 CADEL
Rhotacism atau cadel merupakan gangguan berbahasa yang termasuk gangguan penyakit organik. Pada anak usia balita, hal ini dianggap wajar karena perkembangan organ artikulasinya belum sempurna. Lain halnya pada orang dewasa yang seluruh organ tubuhnya termasuk organ artikulasinya juga telah mengalami tahap sempurna dalam perkembangannya (Sidabutar, 1994:25).
Bahasa sebagai alat komunikasi akan terhambat apabila tidak didukung oleh artikulasi yang tepat. Seperti dalam pergaulan sehari-hari sering kali kita menjumpai seseorang yang mengalami kesulitan dalam menghasilkan bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar. Bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar yaitu bunyi bahasa yang menggunakan ujung lidah dan gusi. Ujung lidah berfungsi sebagai artikulator aktif yang menyebabkan proses mengetar dan gusi sebagai artikulator pasif. Bunyi yang dihasilkan adalah konsonan getar “r”. Bagi orang yang mengalami kesulitan menyebut huruf ‘r”, maka kata-kata yang mengandung huruf “r” yang diucapkan sekilas kedengaran seperti ucapan seorang anak usia balita. Hal ini terjadi karena fungsi bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar digantikan dengan bunyi bahasa konsonan lateral apiko alveolar, bunyi itu ialah “l”. Hal inilah yang dikenal dengan istilah cadel. Pada anak usia balita, hal ini dianggap wajar karena perkembangan organ artikulasinya belum sempurna. Lain halnya pada orang dewasa yang seluruh organ tubuhnya termasuk organ artikulasinya juga telah mengalami tahap sempurna dalam perkembangannya
Dengan begitu dapat kita simpulkan bahwa cadel adalah gangguan bahasa yang terjadi akibat adanya kelainan fiologis dan menyebabkan adanya gangguan artikulasi saat bicara.

2.2 PENYEBAB DAN SOLUSI
Menurut dr. Lily Sidiarto dari bagian Neurologi FKUI-RSCM, Jakarta, cadel adalah salah satu bentuk disartri yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi (pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi dari organ artikulasi. Cadel dapat disebabkan oleh gangguan struktur antara lain karena ukuran lidahnya relatif pendek atau kelainan pada otot yang terdapat di bawah lidah. Adanya kelainan kedua otot tadi bisa menyebabkan gerakan lidah menjadi kurang baik. Penyebab cadel bisa juga disebabkan oleh gangguan fungsi. Gangguan fungsi organ artikulasi dapat terjadi karena kelainan pada otak. Misalnya penderita celebropalsy (cp), yaitu kelumpuhan syaraf pusat, yang antara lain menyebabkan kelemahan motorik otot. Resikonya kecepatan kerja lidah akan berkurang. Penderita down syndrome berakibat kerja lidahnya kurang bagus. Down syndrome, selain menyebabkan intelegensinya rata-rata minus, tonus otot lidahnya pun lemah sehingga menyebabkan cadel (Sidabutar, 1994).
Pada umumnya cadel ini tidaklah dianggap suatu masalah serius karena tidak tergolong jenis penyakit atau gejala penyakit dan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit (Sidabutar, 1986). Pada beberapa suku bangsa bukanlah merupakan sesuatu yang mencolok bagi mereka bahwa hal ini merupakan sesuatu kelainan seperti pada bangsa Cina, dalam alfabetnya memang tidak terdapat huruf “r” sehingga menyebabkan gangguan fungsi pada artikulatornya karena tidak terbiasa mengeja “r”. Demikian pula pada masyarakat Inggris dan beberapa bangsa Negara eropa lainnya, walaupun dalam alphabet mereka terdapat huruf “r” tapi tidak dihasilkan dari bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar, melainkan oleh bunyi bahasa konsonan getar uvular dan konsonan geseran apiko palatal.
Selain karena pengaruh lingkungan tadi (sosiokultural) cadel juga dapat dijumpai pada penderita down syndrome, akibat stroke atau pada penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf (Sidabutar, 1994; Sidarta, 1986). Adapun yang disebabkan oleh karena adanya pengaruh faktor keturunan belum diketahui secara pasti.
Penyebab cadel bisa juga disebabkan oleh gangguan fungsi. Gangguan fungsi organ artikulasi dapat terjadi karena kelainan pada otak. Misalnya penderita celebropalsy (cp), yaitu kelumpuhan syaraf pusat, yang antara lain menyebabkan kelemahan motorik otot. Resikonya kecepatan kerja lidah akan berkurang. Penderita down syndrome berakibat kerja lidahnya kurang bagus. Down syndrome, selain menyebabkan intelegensinya rata-rata minus, tonus otot lidahnya pun lemah sehingga menyebabkan cadel (Sidabutar, 1994).
Melalui diagram silsilah keluarga dari suatu individu yang mengalami cadel, sudah dapat dipastikan/diperkirakan bahwa cadel yang dialaminya disebabkan oleh faktor keturunan serta dapat membedakannya dari cadel yang disebabkan oleh faktor lain (Andi Faridah Arsal, 2012: 162).
Cadel sendiri di bedakan menjadi 2, yaitu cade karena faktor psikologis dan cadel karena faktor neurologis. Cadel yang disebabkan faktor neourologis berarti disebabkan adanya gangguan dipusat bicara. Cara mengatasinya, anak sengan gangguan ini harus segera dibawa ke neorolog. Pada prinsipnya gangguan ini masih bisa ditangani. Namun, bila kerusakannya termasuk parah, bukan tidak mungkin akan terbawa sampai dewasa.
Yang kedua,  cadel yang disebabkan faktor psikologis bisa terjadi karena kehadiran adik. Hal ini karena anak ingin menarik perhatian orangtua, anak akan menunjukkan kemunduran kemampuan bicara dengan menirukan gaya bicara adik bayinya. Untuk mengatasinya, orang tua harus menununjukkan bahwa perhatian padanya tidak berkurang karena kehadiran adik. Selain itu, orang tua harus tetap mengajarkan bahasa yang benar bukan malah menirukan bahasa anak tersebut. (Sarifah Aliah, 2013: 4)


DAFTAR PUSTAKA
Aliah, Sarifah. 2013. Studi Kasus pada Anak Taman Kanak-Kanak yang Mengalami Hambatan Berbicara. Universitas Pendidikan Indonesia : Bandung.
Arsal, Fandi, Aridah. 2012. Analisis Padegree Cadel (Studi Kasus Beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan). Jurnal Sainsmet : Vol 1 No 2. https://docplayer.info/45037061-Analisis-pedigree-cadel-studi-kasus-beberapa-kabupaten-di-sulawesi-selatan.html. Di akses : 06 Oktober 2019.
Matondang, C, E, H . 2019. Analisis Gangguan Berbicara Anak Cadel (Kajian Pada Perspektif Psikologi dan Neurologi). Bahastra : Jurnal Pendidikan dan Sastra indonesia. Vol. 3, No. 2.  file:///C:/Users/ozoNe-com/Downloads/1138-2807-1-SM.pdf. Di akses : 06 Oktober 2019.


Komentar