Keterampilan Berbahasa Membaca (Materi 8)
“KETERAMPILAN BERBAHASA MEMBACA”
1. HAKIKAT
MEMBACA
A.
PERANAN
MEMBACA
Jantung
dari pendidikan, sebagaimana dikatakan oleh Farr (1984) adalah kegiatan
membaca: Reading is the heart of education. Kalau mau menjadi insan
terdidik, orang harus membaca. Tidak ada orang terdidik tanpa melalui membaca.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Adler (1967), seorang pendidik yang
buku-bukunya dirujuk orang di mana-mana. Dia mengatakan Reading is a basic
tool in the living a good life. Membaca merupakan alat utama agar seseorang
dapat menggapai kehidupan yang baik, demikian katanya. Sedangkan Roijakers
(1980), juga salah seorang pakar pendidikan, mengaitkan peranan membaca dengan
pengembangan karier seseorang. Menurutnya, hanya melalui kegiatan membaca yang
layak orang akan dapat mengembangkan diri dalam bidangnya masing-masing secara
maksimal serta akan selalu dapat mengikuti perkembangan baru yang terjadi di
sekelilingnya.
Dalam
tulisannya Membaca Cepat Menjawab Tantangan Abad Informasi (1987),
Soedarso, menyatakan bahwa dengan gencarnya arus informasi seperti sekarang ini
tuntutan untuk membaca akan semakin besar. Padahal waktu yang tersedia semakin
terbatas. Oleh karena jika pada zaman ini orang tidak memiliki kemahiran
membaca yang layak maka dirinya akan mudah terombang-ambingkan, bahkan akan
tergilas oleh arus informasi tersebut.
Dalam
dunia pendidikan kemahiran berliterasi juga merupakan hal yang sangat
fundamental. Mengapa demikian? Sebab selain semua proses belajar sesungguhnya
didasarkan atas kegiatan membaca dan menulis. Hanya dengan melalui kegiatan
literasi membaca dan menulis kita dapat menjelajahi luasnya dunia ilmu yang
terhampar luas dari berbagai penjuru dunia dan dari berbagai babakan jaman, dulu
dan sekarang. Menurut William D. Baker, 85% kegiatan belajar di perguruan
tinggi misalnya berfokus pada kegiatan membaca. Jadi, kemahiran baca-tulis
merupakan batu loncatan bagi keberhasilan setiap seorang, baik dalam konteks
bersekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat.
B. PENGERTIAN
DAN PROSES MEMBACA
Pengertian membaca
menurut para ahli:
1) Membaca
itu merupakan suatu kegiatan membedakan huruf dengan mata dan telinga agar
tidak dibingungkan oleh posisinya nanti jika tampak dalam bentuk tulisan atau
terdengar dalam bentuk lisan (Plato).
2) Membaca
itu merupakan rekonstruksi kejadian di belakang lambangnya (Korzybski, 1941).
3) Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan
bahasa yang tertulis dan pembaca mencoba merekonstruksi berita dari penulis
(Goodman, 1968).
4) Membaca
itu merupakan interaksi makna yang dikode dalam stimuli yang visual menjadi
makna dalam pikiran pembaca. Interaksi itu selalu meliputi tiga segi: 1) materi
yang akan dibaca; 2) pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca; dan 3) kegiatan
psikologis dan intelektual (Gephart, 1970).
5) Membaca
itu merupakan pemikiran (Thorndike, 1922).
6) Membaca
itu belajar, dan membaca itu berpikir (Adler 1940).
7) Membaca
itu merupakan proses pikiran yang merupakan pusat, dan merupakan alat untuk
mengubah simbol-simbol yang tampak pada halaman tercetak (Gray, 1940).
8) Membaca
itu merupakan proses sosial yang menghubungkan pembaca dengan lingkungannya dan
mengondisikan hubungan itu (Waples, 1940).
9) Membaca
yang baik itu tidak hanya meliputi pengertian literal tetapi juga perasaan,
maksud, dan sikap terhadap subjeknya, pembacanya, dan terhadap dirinya sendiri
(Richards, 1935).
10) Membaca itu meliputi pengenalan
lambang-lambang yang tercetak atau tertulis yang berlangsung sebagai perangsang
makna yang dihafal yang tersusun atas pengalaman yang lalu, dan konstruksi arti
yang baru melalui manipulasi konsep yang sudah dimiliki oleh pembaca. Hasilnya
diorganisasikan menjadi proses pikiran berdasarkan tujuan yang diikuti oleh
pembaca (Tinker dan McCullough, 1968).
11) Membaca
itu pertama-tama terdiri atas perolehan pikiran pengarang dari bahasa yang
tertulis atau tercetak; kedua ialah pemberian ekspresi lisan terhadap pikiran
tersebut dalam bahasa pengarang sehingga pikiran yang sama dapat disampaikan
kepada pendengar (Farnham, 1905).
12) Arti
membaca yang paling luas menurut Spencer ialah proses menafsirkan rangsangan
pemahaman dan mengadaptasikan perilaku seseorang yang sesuai dengan tafsir
tersebut (Gray & Rogers (1956).
13) Makna
lain yang tertera dalam kamus, membaca itu berarti pengujian dan penafsiran
data yang simbolis seperti membaca termometer; membaca bahan apa pun seperti
bacaan yang diwajibkan oleh seorang dosen; menderas seperti membaca Al-Qur'an.
Definisi atau pengertian membaca
kelompok pertama, antara lain diwakili oleh Frank Jennings (1965). Dia
mengatakan bahwa membaca bermula dari rasa kagum terhadap alam sekitar.
Definisi kelompok kedua, membaca sebagai interpretasi lambang grafis antara
lain diwakili oleh Rudolf Pleach (1955) dan Charles Fries (1962). Menurut
Pleach, membaca berarti memperoleh makna dari untaian huruf tertentu. Sedangkan
menurut Fries, belajar membaca itu, berarti mengembangkan respons yang sudah
menjadi kebiasaan, serta yang banyak jumlahnya itu, terhadap bentuk-bentuk
grafis yang mempunyai pola yang khas.
Kemudian definisi kelompok ketiga yang
mengkombinasikan kedua definisi tersebut dikemukakan oleh Ernest Horn (1937),
David Russell (1960) Miles Tinker & Constance Mc. Cullough, Emerald Dechant
(1970) E.Brooks Smith, Kenneth Goodman. & Robert Meridith (1970). Horn
mengatakan membaca itu meliputi semua proses yang terlibat dalam pendekatan,
penyempurnaan, dan pemeliharaan makna melalui pemakaian lembaran tercetak.
Russell, mengatakan bahwa membaca itu merupakan kegiatan yang rumit dan
kompleks. Tinker dan Mc.Cullough, mengatakan membaca meliputi pengenalan
lambang yang tertulis atau tercetak yang berperan sebagai perangsang terhadap
pengingatan kembali makna yang disusun melalui pengalaman yang lalu, dan
penyusunan makna baru melalui manipulasi konsep yang telah dimiliki oleh
pembaca. Kemudian menurut Dechant, membaca itu hanya pengenalan lambang grafis.
dan lebih dari sekadar kemampuan mengucapkan kata-kata yang ada pada halaman
bercetakan.
E.Brooks Smith, Kenneth Goodman. &
Robert Meridith mengatakan membaca merupakan proses yang aktif tentang
rekonstruksi makna dari bahasa yang dinyatakan dengan lambang grafis (tulisan).
sama dengan menyimak yang merupakan proses yang aktif dalam merekonstruksi
makna dari lambang bunyi (fonem) bahasa lisan.
2.
MEMBACA
SEBAGAI PROSES
A.
PROSES PSIKOLOGI
Ada
hal-hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian karena mempunyai kaitan
dengan proses membaca. Berikut ini merupakan bagian kecil dari yang telah
diketahui.
1) intelegensi;
2) usia
mental;
3) jenis
kelamin;
4) tingkat
sosial ekonomi;
5) bahasa;
6) ras;
7) kepribadian;
8) .
sikap;
9) pertumbuhan
fisik;
10) kemampuan
persepsi;
11) tingkat kemampuan membaca.
B.
PROSES SENSORIS
Apa
pun yang dapat kita katakan tentang membaca tidak dapat dipisahkan dari
kenyataan bahwa awalnya membaca merupakan proses sensoris. Isyarat dan
rangsangan untuk kegiatan membaca itu masuk lewat telinga dan mata, sedangkan
rangsangan huruf Braille masuk melalui syaraf-syaraf jari. Betapa pun cerdas,
mantap, dan siap jiwanya seorang anak, tidaklah mungkin bisa belajar membaca jika
dia tidak mampu mengenali rangsangan materi. Penjelasan tersebut tidak berarti
bahwa anak-anak yang cacat tidak akan dapat belajar membaca. Anak-anak
mempunyai alat kompensasi yang sangat banyak. Tidak pula dapat dikatakan bahwa
ketunawicaraan dan ketunarunguan semata-mata merupakan penyebab kegagalan
membaca.
C.
PROSES PERSEPTUAL
Proses
perseptual mempunyai kaitan erat dengan proses sensoris. Seperti dalam proses
sensoris, secara umum persepsi dimulai dengan melihat, mendengar, mencium,
mengecap, dan meraba. Vernon (1962) menjelaskan bahwa proses perseptual dalam
membaca terdiri atas empat bagian: 1) kesadaran akan rangsangan visual, 2)
kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata, 3)
klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada dalam kelas umum,
dan 4) identifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya.
D.
PROSES PERKEMBANGAN
Membaca
pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat
seseorang. Dalam upaya mencamkan membaca sebagai proses perkembangan, ada dua
hal yang perlu mendapat perhatian guru. Pertama, guru harus selalu sadar bahwa
membaca merupakan sesuatu yang diajarkan dan bukan sesuatu yang terjadi secara
insidental. Tidak ada seorang anak yang dapat membaca dengan jalan menonton
orang lain membaca. Sebagian besar yang terjadi dalam membaca itu tidak dapat
dilihat. Membaca bukanlah proses instinktif; membaca merupakan proses yang
dipelajari bergantung pada pemerolehan keterampilan dan prosedur tertentu. Hal
yang kedua yang patut diperhatikan, yaitu keyakinan bahwa membaca bukanlah
suatu subjek melainkan suatu proses.
E.
PROSES PERKEMBANGAN KETERAMPILAN
Sifat proses
perkembangan keterampilan dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.
Keterampilan
itu Objektif.
2.
Keterampilan
itu Mempunyai Sifat Berlanjut.
3.
Keterampilan
itu bisa Digeneralisasikan.
Dalam perkembangan keterampilan dikenal
tahapan-tahapan, atau tingkatan-tingkatan. Sebagai berikut:
a. Dasar proses perkembangan keterampilan merupakan
perkembangan konsep.
b. Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan
dan identifikasi.
c. Tahapan perkembangan merupakan interpretasi
mengenai informasi.
Komentar
Posting Komentar