Strategi Pembelajaran Keterampilan Menyimak di SD (Materi 3)
“Strategi
Pembelajaran Menyimak”
Pengertian Strategi
Pembelajaran Menyimak
Strategi merupakan suatu seni merancang kegiatan
proses pembelajaran. Strategi pembelajaran bahasa adalah tindakasn pengajar melaksanakan
rencana mengajar bahasa. Sedangkan strategi pembelajaran keterampilan menyimak
adalah seni merancang tindakan pelaksanaan proses pembelajaran mengenai
kemampuan menginformasikan kembali pemahamannya melalui keterampilan berbicara
maupun menulis.
1.
Menyimak dalam Pengajaran Bahasa : David
Nunan
Selama
tahun 1980, pendukung dari menyimak dalam bahasa kedua juga didorong oleh hasil
lahan bahasa pokok kita. Di sini, orang-orang seperti Gillian Brown dapat
mendemonstrasikan pentingnya perkembangan orasi (kemampuan mendengar dan
berbicara) sama baiknya dengan literasi, di sekolah. Sebelum ini, hal tersebut
diakui bahwa pembicara bahasa pokok memerlukan instruksi dalam bagaimana cara
membaca dan menulis, tetapi dalam bagaimana cara mendengar dan berbicara,
karena kemampuan-kemampuan ini secara otomatis diwariskan kepada mereka sebagai
native speakers.
Proses
Mendengar Dasar
Dengan
menekankan peran comprehensible input, penelitian penambahan bahasa
kedua telah memberikan dorongan yang besar terhadap menyimak. Sebagaimana Rost
(1994, pp. 141-142) menunjuk, menyimak vital dalam kelas bahasa karena hal
tersebut menyediakan masukan bagi pelajar. Tanpa mendengar pada tingkat yang
benar pembelajaran yang mudah sekalipun tidak dapat dimulai. Menyimak adalah
pokok dari berbicara.
Dua
pandangan menyimak telah mendominasi pedagogi bahasa sejak awal tahun 1980.
Yaitu bottom-up dan top-down view. Model bottom-up berasumsi
bahwa mendengar adalah proses membaca kata-kata yang didengar dalam linear fashion,
dari fonem hingga teks lengkap. Top-down view menyarankan bahwa pendengar
secara aktif mengkonstruksi (atau, lebih tepatnya, merekonstruksi) arti
pembicara yang sebenarnya menggunakan suara yang datang sebagai petunjuk.
Menyimak
dalam Praktik
Suatu dimensi yang berpusat pada pelajar
di kelas menyimak dalam satu atau dua cara. Pertama, tugas dapat
direncanakan di mana aksi kelas berpusat pada pelajar, bukan pada guru.
Dalam tugas mengeksploitasi ide ini, para murid dengan aktif terlibat
dalam menstruktur dan merestruktur pemahaman mereka dalam bahasa dan
membangun skill mereka dalam mengunakan bahasa. Kedua, materi mengajar, seperti
tipe material yang lain, dapat diberikan suatu dimensi yang berpusat
pada pelajar dengan membuat pelajar terlibat dalam proses mendasari
pembelajaran mereka dan dalam membuat konstribusi aktif terhadap pembelajaran.
Hal ini dapat dicapai dengan cara-cara berikut:
-
Membuat tujuan instruksional eksplisit kepada pelajar
-
Memberikan pelajar tingkatan pilihan
- Memberikan pelajar kesempatan untuk
membawa pengetahuan dasar mereka sendiri dan pengalaman ke dalam kelas.
-
Mendorong para pelajar untuk mengembangkan sikap reflektif terhadap
pembelajaran dan untuk mengembangkan kemampuan self-monitoring dan penaksiran
diri sendiri.
2.
Hasil Pembelajaran Listening: John
Field
Format standar pelajaran
menyimak yang berkembang pada saat ini:
1) pre-listening:
mengajarkan terlebih dahulu kosa-kata yang terdapat dalam bahasan
2) listening:
ekstensif listening (diikuti dengan pertanyaan umum penetapan konten) intensif
listening (diikuti oleh pertanyaan komprehensi yang mendetail)
3) post-listening:
menganalisis bahasa teks (mengapa pembicara menggunakan tatabahasa tersebut?)
dengar dan ulangi: guru menyetop tape, murid mengulangi kata”.
Menyimak
di Kehidupan Nyata
·
Penggunaan alat pencipta waktu
Alat
tersebut digunakan untuk menunbuhkan waktu bagi pembicara sehingga dia dapat
menyusun apa yang akan dikatakan selanjutnya pada pidato spontan. Satu contoh
tipikal dari alat” ini adalah penggunaan pengisi sela. Di samping fungsi
leksikal atau sintatis yang pengisi sela seperti “um”, “urh”, or “eh” sajikan,
mereka punya tujuan- untuk membantu pembicara merencanakan dan untuk membantu
pendengar memproses ucapan.
·
Penggunaan alat-alat fasilitas
Penggunaan
kata sela adalah alat lain untuk menfasilitasi produksi pidato. Kelancaran
dalam pidato berhubungan dengan rumus bahasa yang digunakan menyangkut dua
hal:mengingat urutan dan stem kalimat leksikal. Contonya disela dengan kata Saya
mengerti, itu maksud saya, kau tahu, maksud saya, sepertinya, dan jadi. Prasa
ini akan memberikan kesan kelancaran berbicara; mereka menyajikan fungsi mengisi
jeda yang tak diinginkan. Sebagai pendengar yang efektif, murid harus mengerti
fungsi mereka.
·
Penggunaan alat kompensasi
Tiga
cara tipikal untuk membangun kelebihan dan membantu membebaskan ingatan adalah
dengan pengulangan, pembentukan ulang, dan penyusunan ulang. Pembicara selalu
mengoreksi dan menambahkan apa yang mereka telah katakan. Mereka bisa
mengulangi bagian speech sesuai permintaan atau mengekspresikan ide mereka
dengan cara berbeda. Kelebihan seperti ini penting untuk mengerti bagi
pendengar. Pendengar yang efektif mengidentifikasi elemen kelebihan ini dan
dapat menduga arti dari bantuan alat kompensasi.
·
Implikasi Pedagogik
Pelajar perlu
mengerti bahwa alat ini ada untuk memfasilitasi produksi pembicara dan proses
pendengar pidato, dan tidak menarik perhatian pendengar atau untuk menghalangi
pengertian.
Komentar
Posting Komentar