Hakikat Berbicara (Materi 5)
“HAKIKAT BERBICARA”
1. 1. Konsep
Dasar Berbicara
A.
Pengertian
Berbicara
Banyak
ahli komunikasi telah mengungkapkan pendapatnya tentang batasan berbicara.
Muljana mengatakan bahwa batasan berbicara harus dilihat kemanfaatannya untuk
menjelaskan fenomena yang dibatasi (200: 42). Sesuai dengan kebutuhannya,
berbicara didefinisikan, misalnya berbicara adalah bentuk komunikasi dengan
menggunakan media bahasa.
Secara
umum, berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran.
Ujaran-ujaran yang muncul merupakan perwujudan dari gagasan yang sebelum berada
pada tataran ide. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Suhendar, Berbicara
adalah proses perubahan wujud pikiran/perasaan menjadi wujud ujaran. (1992:
20). Ujaran yang dimaksud adalah bunyi-bunyi bahasa yang bermakna.
Ada
beberapa hal yang perlu diungkapkan berkaitan dengan batasan berbicara, yaitu:
1. Berbicara
Merupakan Ekspresi Diri
Ketika
seseorang berbicara pada saat itu dia sedang mengekspresikan dirinya. Dari bahasa
yang digunakan pembicara, dapat diketahui kondisi mentalnya. Kemarahan,
kesedihan, kebahagiaan, bahkan ketidakjujuran seseorang tidak dapat
disembunyikan selama dia masih berbicara. Hal ini sejalan dengan pendapat Ton
Kartapati yang mengatakan bahwa berbicara merupakan ekspresi diri. Dengan
berbicara seseorang dapat menyatakan kepribadian dan pikirannya, berbicara
dengan dunia luar, atau hanya sekedar pelampiasan uneg-uneg (1981: 9).
2. Berbicara
Merupakan Kemampuan Mental Motorik
Berbicara
tidak hanya melibatkan kerja sama alat-alat ucap secara harmonis untuk
menghasilkan bunyi bahasa tetapi, berbicara juga melibatkan aspek mental.
Bagaimana bunyi bahasa dikaitkan dengan gagasan yang dimaksud pembicara
merupakan suatu keterampilan tersendiri. Kemampuan mengaitkan gagasan dengan
bunyi bahasa (dalam hal ini kata) yang tepat merupakan hal yang cukup mendukung
keberhasilan berbicara.
3. Berbicara
Merupakan Proses Simbolik
Kata
yang menjadi dasar dari sebuah ujaran merupakan simbol bunyi. Sebagai simbol,
pemaknaan sebuah kata merupakan kesepakatan antarpemakai bahasa. Antara kata
dengan sesuatu yang dirujuknya tidak mempunyai kaitan yang mengikat. Artinya,
penamaan sesuatu dengan sebuah kata merupakan kesepakatan.
4. Berbicara Terjadi dalam Konteks Ruang dan
Waktu
Berbicara
harus memperhatikan ruang dan waktu. Tempat dan waktu terjadinya pembicaraan
mempunyai efek makna pembicaraan.
5. Berbicara
Merupakan Keterampilan Berbahasa yang Produktif
Produktif
di sini bukan berarti menghasilkan suatu produk. Produktivitas dalam hal ini
diartikan sebagai keterampilan berbahasa yang paling banyak digunakan untuk
berkomunikasi, seiring dengan kemampuan berbahasa lainnya, yaitu menyimak.
Kedua kemampuan ini tidak dapat dipisahkan karena kedua keterampilan tersebut
mempunyai hubungan resiprokal.
Selain
itu, perlu juga dikemukakan beberapa prinsip umum berbicara menurut Tarigan
(1983: 16), yaitu:
1.
Membutuhkan paling sedikit dua
orang
2.
Mempergunakan studi linguistik yang
dipahami bersama
3.
Merupakan suatu pertukaran peran
antara pembicara dan pendengar
4.
Berhubungan dengan masa kini
B.
Tujuan dan Jenis Berbicara
1.
Tujuan Berbicara
Tujuan
utama berbicara adalah untuk menginformasikan gagasangagasan pembicara kepada
pendengar. Mulyana mengelompokkan tujuan berbicara ke dalam empat tujuan, yaitu
tujuan sosial, ekspresif, ritual, dan instrumental (2001: 5-30). Ada juga tujuan tujuan berbicara dengan
menitikberatkan pada efek pembacaan. Ada lima tujuan berbicara yang
dapat dimasukkan ke dalam pengelompokan ini, yaitu meyakinkan, membujuk,
menambah wawasan, memberi gambaran tentang suatu objek, dan menyampaikan amanat
terselubung.
2. Jenis
Berbicara
Berdasarkan
situasi, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu
a. berbicara formal, yaitu kegiatan berbicara
yang terikat pada aturanaturan, baik aturan yang berkaitan dengan tatakrama
maupun kebahasaan.
b. berbicara
nonformal, yaitu kegiatan berbicara yang tidak terlalu terikat pada
aturan-aturan, kadang-kadang berlangsung secara spontan dan tanpa perencanaan.
Berdasarkan
keterlibatan pelakunya, berbicara dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu:
berbicara individual, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seorang pelaku
pembicara, misalnya pidato. Berbicara kelompok, yaitu kegiatan berbicara yang
melibatkan banyak pelaku pembicara, misalnya diskusi dan debat.
Berdasarkan
alur pembicaraannya, berbicara dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu berbicara
monologis, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan searah. Pesan yang
disampaikan pembicara tidak memerlukan respons dari pendengar, misalnya pidato
dan membaca puisi. Berbicara dialogis, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan
secara dua arah. Pesan yang disampaikan pembicara memerlukan respons dari
pendengar.
C.
Peranan Berbicara Dalam Keseharian
Dilihat dari situasinya, berbicara dapat
digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu berbicara formal dan nonformal. Berbicara
formal adalah kegiatan berbicara yang terikat secara ketat oleh aturan-aturan,
baik aturan yang berkaitan dengan kebahasaan maupun nonkebahasaan. Sementara
berbicara nonformal adalah kegiatan berbicara yang tidak begitu terikat dengan
aturan. Dalam hal ini, yang diutamakan adalah komunikatif, yaitu pendengar
dapat memahami pesan dengan jelas seperti yang dimaksud pembicara.
D. Kaitan
Berbicara Dengan Keterampilan Berbahasa Lainnya
1. Hubungan
Berbicara dengan Menyimak
a.
Seorang anak
belajar berbicara dimulai dengan menyimak.
b.
Terjadinya
pergantian peran antara penyimak dan pembicara.
c.
Kemampuan
berbicara dijadikan tolok ukur kemampuan menyimak.
d.
Berbicara
dapat dijadikan bentuk reproduksi dari proses menyimak.
2. Hubungan
Berbicara dengan Membaca
a.
Berbicara
dapat dijadikan bentuk reproduksi dari proses membaca.
b.
Pada orang
dewasa peningkatan kemampuan berbicara dapat dilakukan melalui proses membaca.
c.
Membaca dapat
menjadi sarana efektif dalam memandu kegiatan berbicara.
3. Hubungan
Berbicara dengan Menulis
a.
Kemampuan
menulis dapat dijadikan sarana pendukung bagi kemampuan berbicara.
b.
Menulis
sangat diperlukan dalam kegiatan berbicara dialog.
2. Berbicara Sebagai Proses
A. Pengertian
Berbicara Sebagai Proses
Berbicara sebagai proses adalah kegiatan
berbicara yang dimulai dengan proses simbolisasi pesan dalam diri pembicara
untuk disampaikan kepada pendengar melalui sebuah media. Pesan pembicara juga
diterima melalui proses simbolisasi dalam diri pendengar untuk menentukan
respons yang sesuai dengan yang diharapkan pembicara.
B. Tahap-Tahap
Dalam Berbicara
1. Persiapan
Pada
tahap persiapan ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang
pembicara, yaitu penentuan topik, penentuan tujuan, pengumpulan referensi,
penyusunan kerangka, dan berlatih.
a.
Penentuan
topik
Penentuan topik merupakan hal yang
pertama kali dilakukan sebelum kegiatan berbicara berlangsung.
b.
Penentuan
tujuan
Sebelum kegiatan berbicara dilakukan,
harus diperjelas dulu tujuan AndaBerbicara.
c.
Pengumpulan
referensi
Banyak sumber informasi yang dapat
dijadikan referensi atau pendukung kegiatan berbicara, misalnya media cetak,
media elektronik, buku, dan internet.
d. Penyusunan kerangka
Kerangka dalam kegiatan berbicara
berfungsi untuk membimbing arah pembicaraan.
e.
Berlatih
Berlatih merupakan tahapan terakhir
dalam persiapan.
2. Pelaksanaan Kegiatan Berbicara
Secara umum, pelaksanaan kegiatan
berbicara dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
a. Pembuka
Pembuka
berisi tentang pengantar sebelum masuk ke pembahasan pokok.
b.
Pembahasan
Pokok
Bagian
ini merupakan inti dari pembicaraan.
c.
Penutup
Bagian
ini merupakan akhir dari seluruh kegiatan berbicara.
3. Evaluasi
Adakalanya evaluasi perlu dilakukan
untuk mendapat masukan tentang kegiatan berbicara yang telah dilakukan seorang
pembicara. Dengan masukan tersebut seorang pembicara dapat menentukan kualitas
pembicaraannya.
Komentar
Posting Komentar